Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pagar Laut Menurut Perspektif Kajian Fiqih Islam

 


Yurifa Iqbal

Beberapa waktu yang lalu viral kasus pagar laut di perairan Tangerang Banten. Ukuran jarak pagar laut ini adalah sekitar 30,16 kilometer. 

Hal semacam ini tentu tidak boleh luput untuk dijadikan bahan kajian. Karena bagaimanapun umat Islam tentu harus senantiasa membahas segala sesuatu dengan sudut pandang aqidah dan syariah Islam. 

Lalu bagaimana perspektif fiqih Islam dalam menyikapi fenomena semacam ini?

Perlu kita ketahui bersama bahwa dalam kajian fiqih Islam terdapat suatu istilah yang dinamakan dengan al milkiyah al ammah (الملكية العامة) yaitu kepemilikan umum. 

Apa yang dimaksud dengan kepemilikan umum ini?

Dalam kitab Ushul Iqtishad Al Islamiy 

أصول الاقتصاد الإسلامي 

halaman 57 disampaikan :

إنما نعني بها ملكية مجموع الناس، يشتركون فيها شركة إباحة، فلا يختص بها فرد و لا دولة، ولا يجوز التصرف بها بيعا ولا إقطاعا ولا هبة لأنها موقوفة على جماعة المسلمين من كان حيا منهم الآن ومن سيأتي

Hanyalah yang kami maksud dengan kepemilikan umum adalah kepemilikan sekumpulan manusia dimana mereka berserikat dalam memanfaatkan kepemilikan tersebut secara bersamaan, tidak ada hak ekslusif person tertentu maupun negara tertentu dalam kepemilikan umum tersebut, kepemilikan umum ini juga tidak boleh diperjualbelikan, negara tidak boleh memberikannya secara cuma-cuma kepada person tertentu, tidak boleh dihibahkan, sebab kepemilikan umum ini hanyalah diperuntukkan bagi jamaah kaum muslimin baik yang hidup saat ini maupun yang akan datang.

Dari penjelasan tersebut tentu sudah dapat dipahami maksud dari kepemilikan umum bukan?

Dalam kitab ini pada halaman yang sama juga disampaikan bahwa laut dan sungai merupakan bentuk kepemilikan umum! Berikut nukilannya :

ومن صور الملكية العامة : المرافق ( الأرفاق، المباحات) العامة كالمياه العظيمة (الأنهار ، البحار) والشوارع ، و الطرقات والمراعي والغابات. وفي هذا ورد قوله صلى الله عليه وسلم {المسلمون شركاء في ثلاث : في الماء، والكلأ والنار

Diantara bentuk kepemilikan umum adalah fasilitas umum berupa air yang sangat luas seperti sungai, laut, samudra, juga jalan-jalan, padang rumput, dan hutan. Dalilnya adalah sabda Rasulullah Muhammad صلى الله عليه وسلم : kaum muslimin berserikat dalam tiga perkara yaitu air, padang rumput, dan api.

فيجوز لكل واحد أن ينتفع بهذه المرافق على وجه ليس فيه ضرر بالآخرين، فالناس فيها سواء 

Dengan demikian siapapun boleh untuk memanfaatkan fasilitas-fasilitas umum tadi dimana dalam pemanfaatan itu tidak boleh memadharatkan atau membahayakan atau menyebabkan masalah bagi orang lain karena sekali lagi setiap orang memiliki hak yang sama untuk memanfaatkan fasilitas-fasilitas umum tersebut.

Senada dengan keterangan diatas, dalam kitab An Nubadz Al Mukhtarah Min Ahkamil Bahr Wal Bahharah 

النبذ المختارة من أحكام البحر والبحارة 

halaman 65 disebutkan :

ذكر الفقهاء أن مياه البحار مباحة يستوي فيها جميع الناس ينتفعون بها كما ينتفعون بالشمس والهواء، ويشترط انتفاع الأفراد بمياه البحر أن لا يضر انتفاعهم بعامة المسلمين و دليل الإباحة عموم حديث {المسلمون شركاء في ثلاث : الماء، والكلأ والنار} صحيح رواه أحمد و أبو داود وابن ماجه عن ابن عباس رضي الله عنهما

Para ulama fiqih telah menyampaikan bahwa status air laut adalah mubah dan boleh dimanfaatkan oleh semua orang dimana mereka semua setara yakni sama-sama boleh mengambil manfaat dari air laut sebagaimana juga sama-sama boleh mengambil manfaat dari sinar matahari serta dari udara. Ketika memanfaatkan air laut tersebut juga dipersyaratkan tidak boleh memadharatkan atau membahayakan atau menyebabkan masalah bagi kaum muslimin secara umum. Dalil kebolehan memanfaatkan air laut ini adalah keumuman hadits Rasulullah Muhammad صلى الله عليه وسلم : kaum muslimin berserikat dalam tiga perkara yaitu air, padang rumput, dan api (hadits shahih riwayat Imam Ahmad, Imam Abu Dawud, Imam Ibn Majah dari sahabat Ibn Abbas - semoga Allah meridhoinya -.

Redaksi ibarah diatas juga dapat kita jumpai dalam kitab Ahkamul Bahr Fil Fiqhiy Al Islamiyyi 

أحكام البحر في الفقه الإسلامي 

pada halaman 497!

Setelah kita mengetahui bahwa laut termasuk juga sungai merupakan kepemilikan umum, maka memagari laut agar dapat diambil manfaatnya untuk kepentingan pribadi atau kelompok golongan tertentu tentu saja tidak diperbolehkan! 

Ya, setidaknya ketidakbolehan ini berdasarkan pandangan madzhab Asy Syafi'iyah dalam pendapat yang paling ashoh (paling kuat, الأصح) serta mafhum pemahaman dalam madzhab Al Hanabilah.

Memang harus diakui ada khilaf perbedaan pendapat antar ulama fiqih (fuqaha) terkait ihya/penghidupan dan hak ekslusif pengelolaan terhadap tepi pantai atau tepi laut atau pesisir.


Di dalam kitab Ahkamul Bahr Fil Fiqhiy Al Islamiyyi 

أحكام البحر في الفقه الإسلامي 

halaman 467 disampaikan :

للفقهاء - رحمهم الله - قولان في هذه المسألة 

Para fuqaha (ulama fiqih) - semoga Allah senantiasa merahmati mereka - terbagi menjadi dua pandangan dalam bahasan ini.

القول الأول : يجوز إحياء ساحل البحر بشرط عدم إلحاق الضرر بعامة المسلمين كأن يكون معدا لانتفاعهم به وكان محتاجا إليه لمصالحهم و تكون الولاية والتصرف فيما ذكر لولي الأمر بالمصلحة. و إلى هذا ذهب الحنفية و هو قول عند الشافعية 

Pendapat atau pandangan pertama : boleh hukumnya melakukan ihya/penghidupan, pengelolaan dan mendapat hak ekslusif terhadap tepi pantai atau tepi laut atau pesisir DENGAN SYARAT TIDAK MEMADHARATKAN, TIDAK MEMBAHAYAKAN, TIDAK MENYEBABKAN MASALAH bagi kaum muslimin secara umum, semisal ihya/pengelolaan memang disiapkan agar bisa dimanfaatkan secara bersama dan memang diperlukan untuk kemaslahatan serta kebaikan manusia, serta harus dikuasi dan dikelola oleh negara berdasarkan mashlahat. Ini merupakan pandangan madzhab Al Hanafiyah serta satu pandangan dalam madzhab Asy Syafi'iyah.

Namun pendapat pertama ini sepanjang telaah dari penulis kitab Ahkamul Bahr Fil Fiqhiy Al Islamiyyi sama sekali tidak terdapat dalil yang mendasarinya!

القول الثاني : ليس لأحد إحياء هذه السواحل القريبة من البحر و به قال ابن الحاج من المالكية وهو أصح القولين عند الشافعية وهو المفهوم من كلام الحنابلة

Adapun pendapat atau pandangan kedua menyatakan : siapa pun TIDAK BERHAK & TIDAK DIPERBOLEHKAN melakukan ihya/penghidupan, pengelolaan dan hak ekslusif terhadap tepi pantai atau tepi laut atau pesisir laut. Ini merupakan pendapat Imam Ibn Al Haaj dari madzhab Al Malikiyah, pandangan paling kuat dalam madzhab Asy Syafi'iyah, serta mafhum pemahaman dalam madzhab Al Hanabilah. 

Sisi pendalilan dari pendapat kedua ini adalah : bahwasanya tepi pantai, tepi laut, pesisir, demikian pula air laut merupakan hak bersama untuk kaum muslimin secara umum bukan hak eksklusif untuk person atau golongan tertentu, juga terkait dengan kemaslahatan bersama untuk umat manusia. 

Jika izin ekslusif pengelolaan atau penghidupan tepi laut, tepi pantai dan pesisir laut diberikan kepada person atau kelompok tertentu maka pasti akan menimbulkan masalah serta membahayakan kaum muslimin. Oleh sebab itu pendapat kedua ini melarang ihya/penghidupan, pengelolaan hak ekslusif terhadap tepi pantai atau tepi laut atau pesisir laut.

Sekarang mari kita coba tengok beberapa redaksi ibarah para fuqaha dalam kitab madzhab Asy Syafi'iyah dan juga Al Hanabilah.

Di dalam kitab Hasyiyah Qalyubi Wa Umairah

حاشيتا قليوبي وعميرة

juz 3 halaman 96 disampaikan :

فرع: من الظاهر سمك البرك وصيد البحر والبر وجواهرهما، وشجر الأيكة وثمارها، فلا يجوز فيها تحجر ولا اختصاص ولا قطاع ولو إرفاقا ولا أخذ مال أو عوض ممن يأخذ منها شيئا

Termasuk bagian zhahir yang tampak adalah : ikan dalam telaga, hewan buruan laut maupun darat, permata laut maupun darat, pohon rimba belukar beserta buahnya, semua yang disebut tersebut tidak boleh dikapling/dibatasi dengan batu, tidak boleh dibuat ekslusif, tidak boleh diberikan negara kepada person tertentu meskipun hanya sebagian, tidak boleh ditarik kompensasi harta atas orang yang mengambil manfaat dari milik umum tersebut.

Kemudian masih menurut Syafi'iyah dalam kitab Hasyiyah Jamal Ala Syarhil Manhaj 

حاشية الجمل على شرح المنهج 

juz 3 halaman 562 disampaikan :

ولو انحسر ماء النهر عن جانب منه لم يخرج عن كونه من حقوق المسلمين العامة وليس للسلطان إقطاعه لأحد كالنهر وحريمه ولو زرعه أحد لزمه أجرته لمصالح المسلمين

Apabila air sungai susut pada tepinya maka yang demikian tidak mengeluarkannya dari status hak kaum muslimin secara umum, dan penguasa tidak boleh memberikannya secara cuma-cuma kepada person tertentu, seperti sungai dan area sekitarnya, kalau ada orang yang bercocok tanam pada area tersebut maka wajib baginya untuk membayar biaya menanam yang diperuntukkan bagi pos kemaslahatan kaum muslimin.

ومثله ما ينحسر عنه الماء من الجزائر في البحر ويجوز زرعه ونحوه لمن لم يقصد إحياء ولا يجوز فيه البناء ولا الغراس ولا ما يضر المسلمين

Yang semisal dengan hal tersebut adalah apabila air laut yang ada di sekitar pulau mengalami penyusutan, dimana boleh bercocok tanam dan yang semisal itu bagi siapapun yang tidak bertujuan untuk ihya/penghidupan pengelolaan hak eksklusif, dan di laut TIDAK DIPERBOLEHKAN MEMBANGUN, MENUMBUHKAN TANAMAN, SERTA MELAKUKAN HAL-HAL YANG DAPAT MEMBAHAYAKAN KAUM MUSLIMIN.

Adapun menurut Hanabilah, dalam kitab

المغني لابن قدامة

juz 8 halaman 149 disampaikan :

وكذلك حريم البئر والنهر والعين، وكل مملوك لا يجوز إحياء ما تعلق بمصالحه؛ لقوله صلى الله عليه وسلم : «من أحيا أرضا ميتة في غير حق مسلم، فهى له». مفهومه أن ما تعلق به حق مسلم لا يملك بالإحياء

Demikian pula area sekitar sumur, sungai, mata air. Sehingga segala sesuatu yang telah menjadi hak milik maka tidak boleh dilakukan ihya/penghidupan pengelolaan hak ekslusif yang berkaitan dengan kemaslahatannya. Berdasarkan sabda Rasulullah Muhammad صلى الله عليه وسلم : siapapun yang melakukan ihya alias menghidupi tanah mati yang bukan hak seorang muslim, maka dia bisa memilikinya. Sehingga mafhum pemahaman dari hadits tersebut adalah hal-hal yang berkaitan dengan hak seorang muslim tidak bisa dimiliki dengan cara ihya tadi.


Redaksi diatas sama persis dengan redaksi yang ada di dalam kitab

الشرح الكبير على المقنع

juz 16 halaman 89!


Pada catatan kaki kitab Ahkamul Bahr Fil Fiqhiy Al Islamiyyi 

أحكام البحر في الفقه الإسلامي 

halaman 467 disampaikan :

حيث نص على منع إحياء حريم النهر أي شواطئه 

Dimana terdapat nash teks yang lugas dalam madzhab Al Hanabilah akan terlarangnya melakukan ihya penghidupan pengelolaan hak ekslusif atas tepi sungai.

Akhirnya dapat kita pahami dari para fuqaha Asy Syafi'iyah dan Al Hanabilah bahwa tidak boleh melakukan ihya penghidupan pengelolaan hak ekslusif atas tepi pantai dan pesisir pantai karena akan menyebabkan bahaya dan masalah bagi kaum muslimin. 

Kalaupun diasumsikan ada pendapat Al Hanafiyah yang membolehkan ihya penghidupan pengelolaan hak ekslusif atas tepi pantai maka tetap harus diperhatikan bahwa mereka mensyaratkan TIDAK BOLEH MEMADHARATKAN & TIDAK MEMBAHAYAKAN kaum muslimin! Serta harus ditujukan untuk kemaslahatan kaum muslimin.

Dalam bahasan ini penulis cenderung pada pendapat madzhab Asy Syafi'iyah dan Al Hanabilah yang melarang! Tentu dengan tidak tutup mata akan adanya perbedaan serta tetap menghormati pendapat Al Hanafiyah!

Demikian pembahasan ringkas terkait hal ini. Semoga bermanfaat.

والله تعالى أعلم بالصواب