Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Makna Fi Sabilillah Dalam Bab Zakat Menurut 5 Madzhab

 




Yurifa Iqbal, S.Si

Salah satu golongan yang berhak menerima zakat adalah fi sabilillah sebagaimana firman Allah dalam surat At Taubah ayat 60, dimana Allah berfirman :

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah diperuntukkan bagi orang-orang fakir, orang-orang miskin, Amil pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk fi sabilillah jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Ayat ini memuat informasi bahwa salah satu yang berhak menerima zakat adalah fi sabilillaah. Namun apa sebenarnya makna fi sabilillah? Bagaimana pandangan 5 madzhab dalam memaknai fi sabilillah? 

Tulisan ringkas ini mencoba untuk mengurai makna fi sabilillaah berdasarkan pandangan 5 madzhab.

Berikut nukilan dari kitab fiqih masing-masing madzhab.

Di dalam kitab Al Binayah Syarhul Hidayah

البناية شرح الهداية

yang merupakan kitab rujukan dalam madzhab Al Hanafiyah pada juz 3 halaman 454, 455, 456 disampaikan :

م: (وفي سبيل الله) ش: هو السادس أي وموضع الزكاة أيضا في سبيل الله

Untuk fi Sabilillah yaitu golongan keenam yang berhak menerima zakat adalah fi Sabilillah.

م: (منقطع الغزاة) ش: أي في سبيل هو منقطع الغزاة م: (عند أبي يوسف رحمه الله لأنه) ش: أي لأن قوله «في سبيل الله» م: (هو المتفاهم عند الإطلاق) ش: لأن سبيل الله عبارة عن جميع القرب لكن عند الإطلاق يصرف إلى الجهاد

yaitu para pasukan tentara yang statusnya fakir berdasarkan pandangan Imam Abu Yusuf, karena frase fi Sabilillah yang dipahami ketika disebutkan adalah ungkapan untuk semua jenis ketaatan akan tetapi ketika disebut fi Sabilillah secara mutlak maka maknanya adalah Jihad.

م: (وعند محمد رحمه الله منقطع الحاج) ش: وفي «المبسوط»: في سبيل الله منقطع الحاج، وفقراؤهم فقراء الغزاة عند أبي يوسف، وعند محمد رحمه الله فقراء الحاج

Fi Sabilillah juga bisa dimaknai orang berangkat haji yang statusnya fakir berdasarkan pandangan Imam Muhammad bin Hasan Asy Syaibani. Di dalam kitab Al Mabsuth makna fi Sabilillah adalah orang berangkat haji yang statusnya fakir. Jadi menurut Imam Abu Yusuf adalah pasukan tentara yang statusnya fakir, sedangkan menurut Imam Muhammad bin Hasan Asy Syaibani adalah orang berangkat haji yang statusnya fakir.

وقال الكاكي: منقطع الغزاة، وهو المراد من قوله تعالى: ﴿وفي سبيل الله﴾ [التوبة: ٦٠] (التوبة: آية ٦٠)، عند أبي حنيفة وأبي يوسف والشافعي ومالك، وعند محمد وأحمد منقطع الحاج

Imam Al Kaakii mengatakan bahwa makna fi Sabilillah dalam firman Allah surat At Taubah ayat 60 adalah para tentara mujahidin yang statusnya fakir sesuai pandangan Imam Abu Hanifah, Imam Abu Yusuf, Imam Syafii, dan Imam Malik. Adapun menurut Imam Muhammad bin Hasan Asy Syaibani dan Imam Ahmad makna fi Sabilillah adalah orang berangkat haji yang statusnya masih fakir.

وقال ابن المنذر رحمه الله: قول أبي حنيفة رحمه الله وأبي يوسف ومحمد: (في سبيل الله) هو الغازي غير الغني

Dan Imam Ibnul Mundzir mengatakan bahwa makna fi Sabilillah berdasarkan pendapat Imam Abu Hanifah, Imam Abu Yusuf, dan Imam Muhammad bin Hasan Asy Syaibani adalah tentara fakir yang pergi berperang.

 وحكى أبو ثور عن أبي حنيفة أنه الغازي دون الحاج، وذكر ابن بطال في «شرح البخاري» أنه قول أبي حنيفة ومالك والشافعي

Imam Abu Tsaur telah menghikayatkan dari Imam Abu Hanifah bahwa makna fi Sabilillah adalah tentara bukan orang pergi haji. Makna fi Sabilillah adalah tentara inilah yang disebutkan oleh Imam Ibn Bathal dalam Syarah Bukhari dimana ini juga merupakan pendapat Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Asy Syafi'i.

م: (ولا تصرف إلى أغنياء الغزاة عندنا) ش: أي ولا تصرف الزكاة إلى أغنياء الغزاة عندنا م: (لأن المصرف هو الفقراء) ش: أي لأن مصرف الزكاة هو الفقراء

Sehingga berdasarkan pandangan madzhab Imam Abu Hanifah (Al Hanafiyah) harta zakat tidak boleh disalurkan ke para pasukan tentara yang statusnya kaya! Karena zakat hanya boleh disalurkan ke kaum yang statusnya fakir!

Adapun keterangan fi sabilillaah dalam madzhab Imam Malik (Al Malikiyah) dapat dijumpai dalam kitab Tafsir Al Qurthubi

تفسير القرطبي = الجامع لأحكام القرآن

pada juz 8 halaman 185 :

قوله تعالى: (وفي سبيل الله) وهم الغزاة وموضع الرباط، يعطون ما ينفقون في غزوهم كانوا أغنياء أو فقراء. وهذا قول أكثر العلماء، وهو تحصيل مذهب مالك رحمه الله. وقال ابن عمر: الحجاج والعمار. ويؤثر عن أحمد وإسحاق رحمهما الله أنهما قالا: سبيل الله الحج

Firman Allah fi Sabilillah maknanya adalah para pasukan tentara dan tempat ribath (menjaga perbatasan negeri Islam). Maka zakat disalurkan kepada mereka untuk berperang baik mereka statusnya kaya atau fakir miskin. Ini adalah pendapat mayoritas ulama bahkan ini merupakan pendapat madzhab Imam Malik! Imam Ibn Umar mengatakan maksud fi Sabilillah adalah orang-orang yang pergi haji dan juga al ummaar (العمار, orang yang berangkat umrah). Pandangan Imam Ibn Umar ini berpengaruh terhadap Imam Ahmad dan Imam Ishaq dimana mereka berdua menyatakan fi Sabilillah adalah haji.

Sedangkan di dalam kitab Al Majmu Syarhul Muhadzdzab

المجموع شرح المهذب

yang merupakan kitab rujukan dalam madzhab Asy Syafiiyah juz 6 halaman 212 disampaikan :

ومذهبنا أن سهم سبيل الله المذكور في الآية الكريمة يصرف إلى الغزاة الذين لا حق لهم في الديوان بل يغزون متطوعين وبه قال أبو حنيفة ومالك رحمهما الله تعالى

Madzhab Imam Asy Syafi'i (Asy Syafi'iyah) berpandangan bahwa bagian fi Sabilillah pada zakat yang dinyatakan dalam Al Quran harus disalurkan kepada para pasukan tentara Mujahidin yang tidak mendapatkan gaji resmi dari negara, bahkan mesti disalurkan kepada para pasukan tentara Mujahidin yang berperang secara sukarela, ini juga merupakan pandangan Imam Abu Hanifah dan Imam Malik.

وقال أحمد رحمه الله تعالى في أصح الروايتين عنه يجوز صرفه إلى مريد الحج

Adapun Imam Ahmad dalam riwayat yang paling kuat berpandangan bahwa bagian fi Sabilillah juga bisa disalurkan kepada orang yang ingin pergi haji.

Sementara dalam pandangan madzhab Imam Ahmad (Al Hanabilah) makna fi sabilillaah dapat dijumpai dalam kitab Al Inshaf Imam Al Mardawi

 الإنصاف في معرفة الراجح من الخلاف

pada juz 7 halaman 247, 248, 249, 250, 252 :

فى سبيل الله؛ وهم الغزاة الذين لا ديوان لهم فى سبيل الله؛ وهم الغزاة الذين لا ديوان لهم. فلهم الأخذ منها بلا نزاع

Makna fi Sabilillah adalah para pasukan tentara Mujahidin yang tidak mendapatkan gaji resmi dari negara, maka mereka ini boleh menerima harta zakat tanpa ada perselisihan pendapat.

ظاهر قوله: وهم الذين لا ديوان لهم. أنه لو كان يأخذ من الديوان، لا يعطى منها. وهو صحيح

Maka dari frase redaksi para tentara Mujahidin yang tidak mendapatkan gaji resmi dari negara ini bisa dipahami bahwa para pasukan tentara Mujahidin yang mendapat gaji resmi dari negara tidak boleh diberikan harta zakat! Ini pendapat yang shahih.

ولا يعطى منها فى الحج. وعنه، يعطى الفقير ما يحج به الفرض أو يستعين به فيه. وعنه، يعطى الفقير ما يحج به الفرض، أو يستعين به فيه. وهى المذهب

Harta zakat tidak disalurkan untuk aktivitas haji, dan terdapat 1 riwayat dari Imam Ahmad bahwa orang fakir yang berangkat untuk haji fardhu atau untuk membantunya dalam menunaikan haji fardhu bisa diberikan harta zakat! Ini merupakan pandangan madzhab Imam Ahmad!

 نص عليه فى رواية عبد الله، والمروذى، والميمونى. قال فى «الفروع»: والحج من السبيل. نص عليه، وهو المذهب عند الأصحاب

Telah fiks terdapat nash teks Imam Ahmad yang diriwayatkan oleh Abdullah, Al Marwadzi, Al Maimuni. Dalam kitab Al Furu disebutkan bahwa haji termasuk fi Sabilillah, terdapat nash dari Imam Ahmad dan inilah pendapat resmi madzhab menurut Ashab (ulama fiqih madzhab Imam Ahmad).

فعلى المذهب، لا يأخذ إلا الفقير، كما صرح به المصنف فى الرواية، وهو الصحيح من المذهب، وعليه جمهور الأصحاب

Berdasarkan pandangan madzhab Imam Ahmad, yang boleh menerima harta zakat hanyalah fakir yang pergi haji sebagaimana dijelaskan penulis kitab dalam satu riwayat. Dan inilah pendapat yang shahih dalam madzhab, dan inilah pendapat mayoritas ulama fiqih madzhab Imam Ahmad bin Hanbal.

فائدة: العمرة كالحج فى ذلك. على الصحيح من المذهب، وعليه الأصحاب

Umrah juga disamakan dengan haji dalam pembahasan fi Sabilillah ini berdasarkan pandangan yang shahih dalam madzhab Imam Ahmad bin Hanbal. Inilah pandangan Ashab ulama fiqih madzhab Imam Ahmad bin Hanbal.

Dalam madzhab Azh Zhahiriyah pada kitab Al Muhalla Bil Atsar

المحلى بالآثار

pada juz 4 halaman 275 disampaikan :

وأما سبيل الله فهو الجهاد بحق

Adapun Sabilillah maknanya adalah Jihad di jalan Allah dengan benar.

Itulah pandangan 4 (madzhab Al Hanafiyah, Al Malikiyah, Asy Syafi'iyah, dan Al Hanabilah) serta juga ditambah Azh Zhahiriyah terkait makna fi sabilillaah.

Sehingga dari nukilan-nukilan 4 madzhab plus madzhab Azh Zhahiriyah diatas dapat diambil kesimpulan sebagaimana yang disampaikan dalam kitab Fiqhu Masharifi Az Zakah

فقه مصارف الزكاة 

halaman 132 berikut :

اتفق العلماء على أن [سبيل الله] هو الجهاد والغزو و قتال الكفار. هذا هو قول الأئمة الأربعة و جماهير أهل العلم من المفسرين و الفقهاء و المحدثين 

Para ulama telah sepakat bahwa makna fi Sabilillah adalah Jihad dan berperang melawan orang-orang kafir (tentu dengan syarat dan ketentuan yang dibahas secara rinci dalam bab Jihad). Ini merupakan pendapat Imam 4 madzhab (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Asy Syafi'i, dan Imam Ahmad bin Hanbal). Ini juga merupakan pendapat banyak sekali ulama dari kalangan ulama tafsir, ulama fiqih, dan ulama hadits.

Lalu timbul pertanyaan bagaimana jika zakat diberikan pada selain makna fi sabilillaah yang dijelaskan fuqaha (ulama fiqih) 5 madzhab tersebut? Karena tidak dapat dipungkiri ada ulama yang memaknai fi sabilillaah dengan seluruh jenis kebaikan.

Maka di dalam kitab 

مواهب الفضل من فتاوى بافضل

halaman 39 dijelaskan :

وعليه فمن قلد غير الأئمة الأربعة في إخراج الزكاة و صرفها إلى غير مستحقيها من نحو بناء مسجد أوغيره من المصالح العامة مثلا لا تبرأ ذمته منها ويأثم إثما عظيما لأن صرفها لغير مستحقيها مما ذكره السائل كمنعها لأنه خالف الكتاب والسنة وإجماع العلماء في قولهم إن المراد بقوله تعالى: ( و في سبيل الله ) هم الغزاة

Maka atas hal ini, siapa saja yang mengikuti pendapat di luar Imam 4 madzhab dalam hal penyaluran harta zakat dimana malah disalurkan kepada yang tidak berhak menerima harta zakat seperti untuk membangun Masjid atau untuk semisal jenis kebaikan secara umum, maka dia tetap terbebani kewajiban zakat serta mendapatkan dosa besar sebab menyalurkan harta zakat kepada yang tidak berhak menerima zakat itu teranggap seperti orang yang menolak menunaikan zakat - seperti pertanyaan yang diajukan - karena telah menyelisihi Al Quran, As Sunnah dan Ijmak konsesus ulama yang menerangkan makna dari fi Sabilillah adalah para pasukan tentara Mujahidin.

Namun perlu juga disampaikan disini bahwa menyelisihi imam 4 madzhab bukan berarti menyelisihi ijmak kesepakatan konsensus seluruh imam Mujtahid! Kesepakatan imam 4 madzhab bisa dikatakan adalah pendapat mayoritas ulama fiqih (رأي جمهور الفقهاء), namun bukan ijmak kesepakatan yang mengikat dan tidak boleh diselisihi!

Meskipun harus diakui bahwa menyelisihi imam 4 madzhab adalah perkara yang berat! Menyelisihi raksasa-raksasa ilmu fiqih madzhab adalah perkara yang tidak mudah!

Lain halnya jika menyelisihi ijmak kesepakatan konsensus seluruh ulama, maka hal yang demikian tentu saja tidak diperbolehkan!

Di dalam kitab Al Wajiz Fi Ushul At Tasyri Al Islamiy 

الوجيز في أصول التشريع الإسلامي 

halaman 348 disampaikan :

وكذلك لا يعتبر اتفاق الأئمة الأربعة مالك والشافعي و أحمد و أبي حنيفة اجماعا لأنهم بعض المجتهدين 

Demikian pula berbagai produk hukum yang disepakati oleh Imam 4 madzhab yakni Imam Malik, Imam Asy Syafi'i, Imam Ahmad bin Hanbal, dan Imam Abu Hanifah bukan termasuk ijmak seluruh imam Mujtahid karena 4 Imam Madzhab hanyalah sebagian dari Imam Mujtahidin.

Di dalam kitab 

الرد على السبكي في مسألة تعليق الطلاق

juz 2 halaman 763 disampaikan :

فقد اتفق العلماء على أنه ليس إجماع الفقهاء الأربعة أو الخمسة أو الستة أو السبعة أو الثمانية أو التسعة أو العشرة؛ كمالك والثوري وأبي حنيفة وابن أبي ليلى والأوزاعي والشافعي [٢١٥/ أ] وأحمد وإسحاق وداود بن علي ومحمد بن جرير = هو الإجماع المعصوم الذي يجب على جميع المسلمين اتباعه

Para ulama telah sepakat bahwa konsesus pendapat (kesesuaian pendapat) Imam 4 madzhab fiqih atau 5 madzhab atau 6 atau 7 atau 8 atau 9 atau 10 - seperti Imam Malik, Imam Ats Tsauri, Imam Abu Hanifah, Imam Ibn Abi Laila, Imam Al Auzai, Imam Asy Syafi'i, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Ishaq, Imam Daud bin Ali, Imam Muhammad bin Jarir - BUKANLAH IJMAK YANG MAKSUM/SUCI DIMANA WAJIB ATAS SELURUH KAUM MUSLIMIN MENGIKUTINYA!

Sedangkan keterangan terkait boleh taqlid atau mengikuti pendapat selain 4 Imam madzhab fiqih dapat juga dijumpai dalam kitab

نصرة القبض والرد على من أنكر مشروعيته في صلاة الفرض

halaman 54 :

أن من صح عنده مذهب إمام من الأئمة المجتهدين في مسألة، فله أن يقلده فيها كائنًا من كان، صحابيًّا أو غيره، من الأئمة الأربعة أو غيرهم، إذا الكل على هدى من ربهم، والمذاهب – كما قال غير واحد من الأئمة – كلها مسالك إلى الجنة وطرق إلى السعادة، فمن سلك منها طريقًا وصّله

Apabila telah benar dan fiks satu madzhab Imam Mujtahidin bagi seorang muslim dalam suatu pembahasan, maka bagaimana pun juga dia boleh taqlid mengikuti madzhab Imam tersebut, entah berasal dari sahabat Rasulullah Muhammad صلى الله عليه وسلم atau selain sahabat, dari imam 4 madzhab fiqih atau selainnya, karena semuanya berada dalam petunjuk dari Allah, dengan demikian madzhab fiqih - sebagaimana yang dinyatakan beberapa imam - seluruhnya adalah jalan-jalan untuk menempuh surga dan kebahagiaan, maka siapapun yang menempuh diatas jalan tersebut akan menghantarkannya pada tujuan. 

Terakhir, kalaupun mau memperluas makna fi Sabilillah dalam bab Zakat, maka pendapat Syaikh Doktor Yusuf Al Qaradhawi sangat penting untuk disimak dan dipertimbangkan!

Dalam kitab Fiqh Zakat 

فقه الزكاة دراسة مقارنة لأحكامها و فلسفتها فى ضوء القرآن و السنة

pada halaman 657, 658 Syaikh Doktor Yusuf Al Qaradhawi menyampaikan :

وهو أن يكون "في سبيل الله" أي في نصرة الإسلام وإعلاء كلمته في الأرض

Fi Sabilillah adalah menolong agama Islam dan meninggikan kalimat Islam diatas bumi.

فالنصرة لدين الله وطريقته وشريعته تتحقق بالغزو والقتال في بعض الأحوال، بل قد يتعين هذا الطريق في بعض الأزمنة والأمكنة لنصرة دين الله

Maka menolong agama Allah, madzhab, dan Syariat-Nya pada beberapa kondisi dapat terealisasi dengan cara pertempuran dan peperangan, bahkan pada beberapa zaman dan tempat bisa jadi hanya cara itulah yang harus dilakukan untuk menolong agama Allah. 

فنحن نضيف إليهم في عصرنا غزاة ومرابطين من نوع آخر، أولئك الذين يعملون على غزو العقول والقلوب بتعاليم الإسلام، والدعوة إلى الإسلام، أولئك هم المرابطون بجهودهم وألسنتهم وأقلامهم للدفاع عن عقائد وشرائع الإسلام

Atas dasar tersebut kami (Syaikh Doktor Yusuf Al Qaradhawi) berpandangan di zaman sekarang ini ada pasukan tempur dan tentara jenis lain, yaitu mereka yang beraktivitas memerangi akal dan jiwa dengan cara mengajarkan Islam, dengan berdakwah kepada Islam, mereka adalah orang-orang yang bertempur dengan kerja keras, lisan, dan pena dalam rangka membela dan mempertahankan Aqidah dan Syariah Islam!

Demikian pembahasan ringkas terkait hal ini. Semoga bermanfaat.

والله تعالى أعلم بالصواب